Catatan Vivi

Jumat, 09 Oktober 2009

Teror Belum Hilang, Waspadai Jaja dari NII Kelompok Banten

Teror Belum Hilang, Waspadai Jaja dari NII Kelompok Banten
Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri tak lantas bisa berleha-leha setelah berhasil menembak mati dua teroris yang diduga Syaifuddin Zuhri dan Syahrir. Sebab, belum semua pentolan kelompok teroris telah dibekuk. Menurut sumber-sumber yang ditemui Jawa Pos, baik dari kepolisian maupun kalangan ikhwan, ancaman teror sama sekali belum hilang.

Peringatan itu disampaikan Ali Fauzi, adik Amrozi dan Ali Ghufron (dua orang terpidana bom Bali yang dieksekusi pada 9 November 2008, Red).

''Tidak perlu euforia dulu polisi. Boleh-boleh saja Syaifuddin dan Syahrir tewas. Namun, yang punya pikiran dan keyakinan sama dengan mereka masih banyak di Indonesia,'' tegasnya.

Ali Fauzi bahkan mengatakan, dirinya tak akan terkejut apabila dua atau tiga bulan lagi tiba-tiba ada serangan lagi. ''Bukannya saya mau menakut-nakuti. Tapi, saya hanya mengungkapkan kemungkinan,'' ucap mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) senior itu.

Tengara Ali Fauzi tersebut memang beralasan. Buktinya, di kalangan ''aktivis jihad'' beredar SMS yang bernada mengutuk Densus. Begini bunyinya. Allahumma dammir Densus-88 Tadmiiro! Wa farriq jam'ahum! Wa syattit syamlahum! Wasydud wath'ataka 'alaihim! Allahumma shihim 'adada! Waqtulhum badada! Wa laa tubqi minhum ahada! Waj'alhum qirodata, wa khonaaziro wa'abadath thooghuut!!! Bila diartikan tak lebih dari caci maki terhadap Densus 88 Antiteror Mabes Polri. (arti harafiahnya: Ya Allah, hancur leburkanlah Densus 88! Azablah mereka! Catatlah mereka! Bunuhlah mereka dengan keji! Jangan sisakan seorang pun di antara mereka! Jadikan mereka kera-kera, babi-babi, dan budak-budak toghut!). Itu menunjukkan indikasi masih ada orang Indonesia yang memilih sepaham dengan Syaifuddin dan Syahrir.

Namun, sebuah sumber di kepolisian mengatakan bahwa ada satu nama yang kini paling diburu. Yakni, Jaja. Dia adalah aktivis NII (Negara Islam Indonesia) dari kelompok Banten dan diduga kuat kenal baik dengan Rois, dalang bom di Hotel Marriott 2003 yang kini tengah menunggu hukuman mati. Rois diketahui bukan dari background Jamaah Islamiyah, melainkan dari NII.

Sumber tersebut mengatakan bahwa Jaja secara militer jauh lebih berbahaya bila dibandingkan dengan Syaifuddin dan Noordin M. Top digabungkan sekaligus. ''Dia (Jaja, Red) merupakan salah seorang organisator kamp pelatihan militer di Mindanao,'' tutur sumber tersebut. Namun, Jaja tidak bergabung di kamp Hudaibiyah ataupun kamp Abu Bakar milik MILF. Namun, dia mengorganisasi kamp pelatihan sendiri yang dikenal dengan kamp NII di Pulau Saranggani, salah satu pulau yang berjarak sekitar enam jam naik pump boat dari daratan Pulau Mindanao.

''Empat tahun lalu dia sudah kembali ke Indonesia yang sebelumnya bolak-balik Mindanao-Indonesia,'' tuturnya. Nama Jaja itu cukup dikenal di kalangan aktivis jihad sebagai salah seorang organisatoris kamp NII paling jempolan.

Setelah banyak anggota jaringan Jamaah Islamiyah (JI) ditangkap dan memilih ''tiarap'', Noordin pun ''menoleh'' ke jaringan NII, terutama dari kelompok Banten. Selain karena secara tradisional antara JI dan NII masih ''saudara kandung'', NII ''menyediakan'' banyak sumber daya manusia setelah orang-orang JI habis ditangkapi ataupun dipantau ketat polisi.

Persentuhan kelompok Noordin dengan NII dimulai sejak bom Marriott pada 2003. Indikasinya, pelaku bom bunuh diri, Heri Golun, adalah orang NII. Demikian juga Rois, salah seorang master mind-nya adalah pentolan NII. Syaifuddin maupun Syahrir pun merupakan salah seorang pentolan kelompok NII Banten.

Ketika ditanya soal nama Jaja, Ali Fauzi tak mau berkomentar. ''Saya tak tahu nama itu,'' kelitnya. Na­mun, Ali Fauzi justru mengomentari kiprah Syaifuddin. ''Kelasnya, terutama dalam hal escape (melarikan diri), masih jauh dari Noordin,'' tuturnya.

Ali Fauzi mengatakan, itulah perbedaan antara aktivis jihad yang mempunyai background militer yang cukup dan yang hanya mempunyai background akademisi. ''Noordin bisa enam tahun bertahan, sedangkan Syaifuddin baru sebulan muncul sudah tertembak,'' tambahnya. (ano/kum)

Label:

Syaifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir Tewas Diberondong Peluru Densus


[ Sabtu, 10 Oktober 2009 ]
Syaifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir Tewas Diberondong Peluru Densus
JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri terus mengobrak-abrik dan memereteli jaringan teroris Noordin M. Top. Dalam operasi terbatas enam jam kemarin, dua teroris yang diyakini sebagai Syaifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir tewas diberondong peluru oleh CRT (Crisis Response Team) Densus 88.

Syaifuddin adalah teroris buron kedua setelah Noordin M. Top. ''Kami menduga, mereka adalah Syaifuddin Zuhri dan Muhammad Syahrir. Itu berdasar keterangan saksi dan keterangan lain yang didapatkan di lapangan,'' kata Kadiv Humas Irjen Pol Nanan Soekarna di Mabes Polri tadi malam.

Nanan belum berani memastikan karena masih menunggu identifikasi DNA dan data forensik yang lain. ''Senin nanti (12/10) baru bisa jelas,'' tambahnya.

Meski demikian, Nanan mengatakan bahwa polisi sudah menghubungi keluarga Syaifuddin di Cilimus, Kuningan, Jawa Barat.

Penggerebekan dilakukan di sebuah rumah kos milik Haji Jatna di Gang Semanggi 2 RT 2/ RW 3, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang. Hingga tadi malam, lokasi itu dipadati warga yang menonton.

Penangkapan Syaifuddin dan Syahrir itu sebenarnya berawal dari data laptop Noordin M. Top. Selain itu, polisi mendapatkan pengakuan penting dari Aris Makruf, DPO (daftar pencarian orang) yang menyerah di Temanggung.

Sumber Jawa Pos Sabtu lalu (3/10) mengungkapkan, sebuah operasi besar segera dilakukan. ''Insya Allah, kita akan mendapatkan sesuatu yang besar dalam beberapa saat lagi,'' kata perwira itu (Jawa Pos 4/10). Janji itu dipenuhi lima hari kemudian.

Menurut Nanan, polisi terpaksa menembak dua buron tersebut. ''Sebab, mereka melempar bom dari sakunya,'' kata mantan Kapolda Jawa Barat itu.

Dia menjelaskan, penggerebekan dimulai dari penangkapan seorang berinisial Fr di Bekasi Timur. ''Pagi diringkus, siang langsung ke Ciputat,'' katanya.

Fr disebut-sebut sebagai Fajar. Dia itulah yang diduga polisi sebagai kurir yang bertugas menyediakan safe house bagi Syaifuddin dan Syahrir. ''Dia mengaku sebagai Sony, yang mencari kontrakan,'' katanya. Fajar alias Sony tinggal di kos itu sejak bulan Ramadan. Namun, Syaifuddin dan Syahrir baru masuk tiga hari lalu (Selasa, 6/10).

Berdasar informasi itu, pukul 11.15 kemarin tim CRT atau Tim Pe­nindak Densus 88 Mabes Polri bergerak masuk ke rumah kos yang dihuni Syaifuddin dan Syahrir. ''Anggota terpaksa menembak karena mereka menyerang petugas. Di sana ada tujuh bom,'' kata Nanan.

Seorang sumber yang ikut dalam penggerebekan menuturkan, Syahrir melemparkan bom pipa kali pertama begitu pintu didobrak. ''Dapat ditangkis,'' kata sumber itu. Setelah pintu terbuka, Syaifuddin berusaha lari dengan melemparkan bom untuk menjebol genting kamar. Namun, bom itu tidak meledak. Syaifuddin kembali melemparkan bom ke arah tim Densus 88 dan meledak hanya satu meter di samping seorang anggota.

''Karena melawan, (mereka) harus kami lumpuhkan,'' katanya.

Kamar berukuran 3 x 4 meter itu jebol pada bagian pintu dan sebagian dindingnya. ''Bom pipa yang mereka bawa ukuran kecil, tapi kalau kena langsung bisa mematikan. Seperti mercon Leo (jenis mercon), tapi lebih besar sedikit,'' katanya.

Saksi mata Usep Muzani, penghuni kamar nomor 14 samping kamar Syaifuddin, sempat terkunci di kamar saat penggerebekan. ''Saya mendengar suara, bawa hidup bawa hidup,'' ujarnya.

Tapi, beberapa saat kemudian Usep mendengar suara ledakan. ''Seperti petasan,'' tambahnya. Setelah itu, dia mendengar suara baku tembak.

"Saya sempat ditodong Densus, lalu disuruh keluar," kata mahasiswa UIN itu. Tempat persembunyian Syaifuddin memang unik. Lokasinya dekat sekali dengan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Jaraknya hanya sekitar 600 meter dari Jalan Ciputat Raya. Rumah Rektor UIN Prof Dr Komaruddin Hidayat juga tak jauh dari lokasi itu, hanya sekitar 500 meter dan beda rukun tetangga (RT).

Di lokasi itu, ada Pusdiklat Departemen Agama, Kampus Bina Sarana Informatika, dan Ciputat Mega Mall yang merupakan kompleks pertokoan yang ramai. Jarak antar rumah juga sangat rapat.

Persembunyian Syaifuddin itu hanya satu kilometer dari Polsek Ciputat. "Masak teroris lapor polsek dulu," kata Kabidpenum Mabes Polri Kombes Untung Yoga saat ditanya soal kelengahan aparat polsek.

Sumber Jawa Pos menuturkan, lokasi itu terendus karena jaringan Syaifuddin berkhianat. "Tekanan media membuat mereka frustrasi," katanya. Fajar adalah kurir lapis terakhir bagi keduanya. Nama Fajar muncul sejak pengintaian intensif setelah pemakaman Urwah di Mijen, Kudus, (baca: Gantikan Noordin, Syaifuddin Sudah Pegang Komando, Jawa Pos, 7 Oktober 2009).

Kadiv Humas Nanan Soekarna menjelaskan, Fajar sebenarnya nama baru. "Dia masih kerabatnya," kata Nanan. Setelah operasi itu, Nanan memastikan Densus 88 masih bekerja. "Ada puluhan yang belum (tertangkap)," imbuhnya.

Penangkapan yang berujung tewasnya duo teroris asal Kuningan, Jawa Barat, itu disesalkan pengamat terorisme Rakyan Adibrata. "Amat disayangkan kalau benar-benar Syaifuddin. Karena dia punya jaringan langsung ke Al Qaidah," katanya.

Peneliti Research Center for Terrorism and Security yang pernah meriset terorisme di Prancis itu menilai, metode pengepungan Densus tidak harus berakhir mati. "Sebenarnya, bisa dilumpuhkan dengan non lethal weapon," tuturnya. (rdl/kum)

Label:

Sabtu, 26 September 2009

Sosok Abu Sayyaf

Abu Sayyaf

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kelompok Abu Sayyaf, juga dikenal sebagai Al Harakat Al Islamiyya, adalah sebuah kelompok separatis yang terdiri dari teroris Muslim yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina, antara lain Jolo, Basilan, dan Mindanao.
Khadaffi Janjalani dinamakan sebagai pemimpin kelompok ini oleh Angkatan Bersenjata Filipina.
Dilaporkan bahwa akhir-akhir ini mereka sedang memperluaskan jaringannya ke Malaysia dan Indonesia. Kelompok ini bertanggung jawab terhadap aksi-aksi pemboman, pembunuhan, penculikan, dan pemerasan dalam upaya mendirikan negara Muslim di sebelah barat Mindanao dan Kepulauan Sulu serta menciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya negara besar yang Pan-Islami di Semenanjung Melayu (Indonesia dan Malaysia) di Asia Tenggara. Nama kelompok ini adalah bahasa Arab untuk Pemegang (Abu) Pedang (Sayyaf).
Abu Sayyaf adalah salah satu kelompok separatis terkecil dan kemungkinan paling berbahaya di Mindanao. Beberapa anggotanya pernah belajar atau bekerja di Arab Saudi dan mengembangkan hubungan dengan mujahidin ketika bertempur dan berlatih di Afganistan dan Pakistan.

Label:

Jemaah Islamiyah

Jemaah Islamiyah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jemaah Islamiyah, kadangkala dieja Jamaah Islamiah adalah sebuah organisasi militan Islam di Asia Tenggara yang berupaya mendirikan sebuah negara Islam raksasa di wilayah negara-negara Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia, Thailand dan Filipina. Pemerintah Amerika Serikat menganggap organisasi ini sebagai organisasi teroris, sementara di Indonesia organisasi ini telah dinyatakan sebagai "korporasi terlarang".

Keberadaan organisasi ini disangkal oleh pemuka-pemuka agama dan para politisi seperti Hamzah Haz dan Amien Rais mengingat sulitnya memahami antara aksi dan tujuan yang hendak dicapai dari setiap aksi.

Menurut informasi intelijen, Jemaah Islamiyah mendapat bantuan keuangan dari kelompok teroris lain seperti Abu Sayyaf dan al-Qaeda. Jemaah Islamiyah berarti "Kelompok Islam" atau "Masyarakat Islam" dan dipemberitaan suratkabar disebut JI.

Jemaah Islamiyah dicurigai melakukan aksi pengeboman Bali 2002 pada tanggal 12 Oktober 2002. Dalam serangan ini, pelaku bom bunuh diri dari Jemaah Islamiyah disebut-sebut menewaskan 202 orang melukai beberapa lainya di sebuah nightclub. Setelah serangan ini, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan Jemaah Islamiyah sebagai pelakunya dan menyatakannya sebagai Organisasi Teroris Asing. Jemaah Islamiyah juga dicurigai melakukan pengeboman Zamboanga, pemboman Metro Manila, dan pemboman kedutaan Australia 2004 di Jakarta.

Sejarah

Menurut pernyataan intelijen, JI merupakan konfederasi beberapa kelompok Islam. Sekitar tahun 1969, dua orang, Abu Bakar Bashir, dan Abdullah Sungkar, dianggap melakukan operasi untuk mengembangkan Darul Islam, sebuah kelompok konservatif Islam. Abdullah Sungkar sudah meninggal, sedangkan Abu Bakar Bashir sendiri membantah keterlibatannya dengan JI dan menyatakan tidak tahu menahu tentang JI. Meskipun JI dituduh melakukan pemboman di hotel JW Mariot, Jakarta, keterkaitan Abu Bakar Bashir dengan aksi itu dinyatakan tidak terbukti oleh pengadilan.

Bashir dan kawan-kawannya mendirikan radio untuk menyampaikan pengajian di Indonesia. Bashir juga mendirikan pesantren di Jawa. Motto dari pesantren itu adalah, "Hidup mulia atau mati mendapat surga."

Tanpa peradilan, Bashir dijebloskan ke penjara semasa pemerintahan Suharto karena dianggap membahayakan dan hidup di penjara selama beberapa tahun.

Selepas dari penjara, Bashir melarikan diri ke Malaysia di tahun 1982. Dia menjadi guru mengaji di Malaysia dan mempunyai banyak pengikut di negeri itu. Saat inilah dia dianggap mendirikan Jemaah Islamiyah dan pengikutnya tersebar juga hingga ke Singapura dan Filipina.

Anggota JI membuat dan menyebarkan pamflet, tapi tidak melakukan aksi teror. Bashir menyerukan jihad tapi dia tidak mau melakukan aksi kekerasan.

Menurut cerita intelijen, Bashir bertemu Riduan Isamuddin, atau Hambali di awal tahun 1990an di sebuah sekolah yang didirikan oleh Bashir. Bashir menjadi pemimpin politik dari organisasi itu sedangkan Hambali menjadi pemimpin militer.

Dikatakan pula bahwa Hambali menginginkan berdirinya kekalifahan Islam di Asia Tenggara, meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei, dan Kamboja. Negara seperti ini mempunyai penduduk sekitar 420 juta (menurut data dari CIA World Factbook). Negara seperti ini akan memegang kendali Laut Tiongkok Selatan yang merupakan jalur perkapalan besar dan menjadi pintu gerbang sebagian Asia dan Samudera Hindia. Negara seperti ini juga mempunyai ruang udara yang besar dan merupakan kekuatan dagang besar yang melibatkan India, Afrika, dan Australia.

Dinyatakan bahwa JI pertama kali melibatkan dirinya sebagai kelompok sel teror yang menyediakan dukungan keuangan dan logistik bagi operasi Al-Qaida di Asia Tenggara. Hambali mendirikan perusahaan yang bernama Konsojaya untuk membantu pencucian uang guna mendukung rencana itu, termasuk mendukung Operasi Bojinka yang gagal pada tanggal 6 Januari, 1995.

Bashir kembali ke Indonesia di tahun 1998, ketika pemerintahan Suharto tumbang, dan secara terbuka menyerukan jihad. Sedangkan Hambali bergerak di bawah tanah.

Di tahun 2000, Hambali dianggap melakukan serangkaian pemboman ke gereja-gereja kristen.

Menurut kesaksian seorang penerjemah di pengadilan, Pemerintah Amerika Serikat melalui duta besarnya, pernah meminta kepada pemerintahan Megawati untuk menangkap Bashir dan mengancam akan ada peristiwa jika hal itu tidak dilaksanakan. Megawati menolak karena tidak punya bukti untuk menangkap Bashir.

Ketika kemudian terjadi pemboman Bali, JI dituduh melakukan hal itu. Peristiwa lain yang dianggap dilakukan oleh JI adalah pengeboman hotel Marriott di Jakarta.

Bashir ditangkap polisi Indonesia dan mendapat hukuman karena dituduh menghasut dan memberi inspirasi bagi perbuatan teror.

Namun Bashir kembali di bebaskan karena tidak terbukti bersalah

Hambali ditangkap di Thailand pada tanggal 11 Agustus 2003.

Seorang pria kelahiran Inggris berkebangsaan Australia bernama Jack Roche mengaku menjadi bagian dari rencana JI meledakkan kedutaan besar Israel di Canberra, Australia pada tanggal 28 Mei 2004. Dia dihukum 9 tahun penjara pada tanggal 31 Mei. Pria ini mengaku bertemu dengan Osama bin Laden di Afganistan.

JI dicurigai melakukan pemboman di kedutaan besar Australia di Jakarta pada tanggal 8 Sep 2004 yang menewaskan 11 orang Indonesia (tidak ada orang asing yang tewas) dan melukai lebih dari 160.

Jamaah Islamiyah wilayah Asia Tenggara

Struktur organisasi JI wilayah Asia Tenggara

  • Zarkasih - Amir
    • Bidang Dakwah
    • Bidang Tarbiyah
    • Bidahg Perbekalan
    • Abu Dujana - Bidang Sariyah (militer)
      • Ishobah I - Solo
      • Ishobah II - Semarang
      • Ishobah III - Surabaya
      • Ishobah IV - Jakarta

Referensi

  1. "Jemaah Islamiah declared 'forbidden'", The Age, 22 April 2008
  2. Koran Tempo 16 Juni 2007

Label:

Rentetan "BOM" oleh teroris di Indonesia

Rentetan Serangan Bom Teroris

Di Indonesia 2000-2009

* Bom Kedubes Filipina, Jakarta 2000. 1 Agustus 2000, bom meledak dari sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina, Menteng, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka-luka, termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.
* Bom Kedubes Malaysia, Jakarta 2000. 27 Agustus 2000, granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
* Bom Gedung Bursa Efek Jakarta 2000. 13 September 2000, ledakan mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10 orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat, 57 rusak ringan.
* Bom malam Natal 2000. 24 Desember 2000, serangkaian ledakan bom pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak.

2001

* Bom Plaza Atrium Senen, Jakarta 2001. 23 September 2001, bom meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.
* Bom Restoran KFC, Makassar 2001. 12 Oktober 2001, ledakan bom mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon sign KFC pecah. Tidak ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang Makassar tidak meledak.
* Bom sekolah Australia, Jakarta 2001. 6 November 2001, bom rakitan meledak di halaman Australian International School (AIS), Pejaten, Jakarta.

2002

Bom Bali Pertama

Bom Bali Pertama

* Bom malam Tahun Baru 2002. 1 Januari 2002, Granat manggis meledak di depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.
* Bom Bali 2002. 12 Oktober 2002, tiga ledakan mengguncang Bali. 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak ada korban jiwa.
* Bom Restoran McDonald’s Makassar 2002. 5 Desember 2002, bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran McDonald’s Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.

2003

Bom JW Marriott 2003

Bom JW Marriott 2003

* Bom Kompleks Mabes Polri, Jakarta 2003. 3 Februari 2003, bom rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta. Tidak ada korban jiwa.
* Bom Bandara Cengkareng, Jakarta 2003. 27 April 2003, bom meledak dii area publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8 lainnya luka sedang dan ringan.
* Bom JW Marriott 2003. 5 Agustus 2003, bom menghancurkan sebagian hotel JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan 152 orang lainnya mengalami luka-luka.

2004

* Bom cafe, Palopo 2004, terjadi pada 10 Januari 2004 di Palopo, Sulawesi menewaskan empat orang. (BBC)
* Bom Kedubes Australia 2004, 9 September 2004, ledakan besar terjadi di depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara Grasia, dan Gedung BNI. (Lihat pula: Bom Kedubes Indonesia, Paris 2004)
* Ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.

2005

* Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005
* Bom Pamulang, Tangerang 2005, 8 Juni 2005, bom meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.
* Bom Bali 2005, 1 Oktober 2005, bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA’s Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.
* Pemboman Palu 2005, 31 Desember 2005, bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.

2009

* Bom Jakarta 2009, 17 Juli 2009, dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan terjadi hampir bersamaan, sekitar pukul 7.00 WIB.

Sebagai catatan saja selama kurun waktu 2005 -2009 semasa pemerintahan SBY-JK relatif tidak ada bom, namun di akhir masa pemerintahan mereka diwarnai bom yang terjadi di tempat yang sama JW Marriott. Semoga di masa masa mendatang Indonesia diwarnai kedamaian tanpa adanya serangan teror dan pertikaian lagi seterusnya.

Label:

Hubungan DI/NII - JI - TERORISME

Hubungan DI/NII - JI - TERORISME

Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia (DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat. Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh Komando Jihad asal Jawa Timur yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Abu Durjana alias Aenul Bahri adalah murid tokoh DI, Ustadz Dadang Hafidz. Pun Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir yang berasal dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah organisasi: keluarga besar DI/NII, dan ideologi: mendirikan sebuah negara Islam atau menegakkan syariat Islam di Indonesia.


Ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).

Seiring dengan penangkapan SMK pada tahun 1962 melalui sebuah operasi “Pagar Betis” yang cukup legendaris di kalangan aktivis NII, gerakan NII mulai terpecah menjadi beberapa faksi–meski ada yang bilang sebenarnya faksi itu hanya merepresentasikan basis wilayah gerakan saja.

Nah, di era tahun 1970-an dan 1980-an, muncul beberapa nama tokoh NII lanjutan, seperti Adah Djaelani (Mamak), Abu Darda, Rahmat Tahmid Basuki (keduanya putra SMK), dan Ajengan Masduki yang berbasis di Priangan. Sementara di Jawa Tengah, muncul nama Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Menurut kalangan dalam NII, Abdullah Sungkar ketika itu adalah Amir NII Wilayah III Jateng, sedangkan Abu Bakar Baasyir adalah figur kepercayaan Abdullah Sungkar. Menurut kalangan dalam, baik Sungkar maupun Baasyir berbaiat kepada H. Ismail Pranoto (Hispran) pada tahun 1976–meskipun kemudian hal itu dibantah dalam pleidoi mereka.

Sungkar dan Baasyir pun kemudian bahu membahu dengan para tokoh DI lain, seperti Danu Muhammad Hassan, Aceng Kurnia, Adah Jaelani, dan Gaos Taufik. Sebagai catatan, Danu Muhammad Hassan adalah ayah dari Ketua Majelis Syuro PKS, Hilmi Aminuddin. Ketika para tokoh DI ini dituduh melakukan beberapa aksi teror, seperti pemboman Gereja Methodis di Medan, pemerintahan Soeharto mulai mengambil tindakan represif. Lebih dari 700 anggota dan tokoh DI di Sumatera Utara, Palembang, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur ditangkap. Mereka yang ditangkap di antaranya Haji Ismail Pranoto (Hispran), Gaos Taufik, Danu Muhammad Hassan, Muhammad Darda, Timsar Zubil dll. Mereka dituding terlibat gerakan Komando Jihad yang bercita-cita mendirikan NII.

Basis gerakan DI pindah ke Jawa Tengah terutama Solo dan Yogyakarta. Aparat keamanan belum mengendus keterlibatan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir dalam gerakan Darul Islam. Abdullah Sungkar masih aktif berceramah, sementara Abu Bakar Ba’asyir lebih aktif mengurus pesantren. Ceramah-ceramah Sungkar dikenal keras. Salah satu tema paling ia sukai soal aqidah. Konsep aqidah Abdullah Sungkar sangat dipengaruhi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri gerakan Wahabi.

Kecenderungan Wahabiyah yang dikembangkan Sungkar ini memang agak lari dari asal-usul DI itu sendiri, yang justru sama sekali tidak mengarah pada semangat Wahabi.

Pertengahan dekade 1980-an, ketika Borobudur jadi sasaran bom, militer semakin represif, Abdullah Sungkar dan Baasyir pun lari ke Johor, untuk kemudian ke Selangor. Nah, setelah beberapa tahun berdakwah di Malaysia, duo kiyai pentolan dari Ngruki ini kemudian mendirikan Jemaah Islamiyah (JI).. Sebelumnya, beberapa kader DII atau NII telah lebih dulu bermukim di Malaysia. Salah satunya, Abdussalam Rasyidi, yang kini lebih dikenal sebagai Syaykh A.S. Panji Gumilang, pimpinan NII faksi Al-Zaytun–pengelola Universitas Al-Zaytun dan Ma’had Al-Zaytun di Indramayu. Konon, menurut desas-desus di kelompok DI Zaytun ini, Abdussalam punya andil dalam pelarian Sungkar dan Baasyir. Memang, Abdussalam kemudian lebih banyak bermukim di Sabah (Malaysia Timur), sedangkan duo Ngruki kemudian bermukim di Negeri Sembilan (Malaysia Barat).

Di Malaysia, dakwah Sungkar dan Baasyir berjalan mulus. Mereka mulai melakukan perekrutan anggota DI. Beberapa nama yang berhasil berbaiat di hadapan Sungkar dan Baasyir yakni: Hambali, Ali Ghufron, dan Imam Samudera. Di Malaysia, Sungkar bertemu dengan Syaykh Rasul Sayyaf, salah seorang pimpinan Mujahidin Afganistan. Dalam pertemuan itu tercapai kesepakatan kerjasama antara kelompok Syaikh Rasul Sayyaf dengan DI pimpinan Sungkar dalam bentuk pelatihan militer di Afganistan bagi para kader DI. Beberapa kader pun dikirim ke Afghan, termasuk Hambali, Ali Ghufron, dan Imam Samudera.

Sayang, hubungan Sungkar-Baasyir dan tokoh-tokoh DI di tanah air merenggang. Itu karena duet Sungkar-Baasyir dianggap lalai berkoordinasi dengan Amir NII di tanah air, termasuk dalam pengiriman para kader DI ke Afghan.

Singkat cerita, Sungkar-Baasyir mendirikan Jamaah Islamiyah (JI). Keputusan itu sungguh masuk akal karena nama JI jauh lebih universal ketimbang NII, yang sangat Indonesia sentris. Langkah semacam ini juga diikuti oleh NII faksi Al-Zaytun yang memodifikasi sebutan NII di Malaysia menjadi DIN (Daulah Islamiyah Nusantara).

Johor Baru adalah salah satu basis JI pimpinan duet Sungkar-Baasyir. almarhum Dr. Azhari dan Noordin M. Top adalah murid-murid Sungkar-Baasyir. Dari beberapa informasi kalangan dalam, keduanya sudah bergabung dan berbaiat sejak gerakan Sungkar-Baasyir masih bernama DI/TII atau NII.

Melompat jauh ke depan, pada 1998, Noordin menjadi Kepala Sekolah Madrasah Luqmanul Hakiem, salah satu madrasah di Johor Baru yang dibidani kelahirannya oleh Abu Bakar Baasyir, yang menjadi pimpinan tertinggi JI menggantikan Abdullah Sungkar yang sudah mangkat. Ketika, pemerintah Malaysia mulai mengendus aroma tak sedap kelompok pimpinan Baasyir itu, seluruh pesantren yang dicurigai memiliki hubungan dengan Baasyir pun ditutup. Ketika itu, mereka disebut sebagai KMM alias Kelompok Militan Malaysia. Baasyir cs, termasuk Noordin M. Top, pun pindah ke Indonesia–kembali ke asal pergerakan JI bermula ketika dahulu masih bernama DI/TII. Dalam pelariannya itu, Noordin memboyong istri dan ketiga anaknya ke kampung isterinya di Desa Pendekar Bahar, Bangko, Rokan Hilir, Riau. Letak Rokan Hilir memang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Seperti sumbu ketemu tutup, di Indonesia para aktivis JI itu kembali bersinergi dengan para aktivis DI, yang sejatinya merupakan kakak tua secara ideologis. Menurut beberapa mantan aktivis JI di Jawa Tengah, pola tilawah (aktivitas perekrutan) JI 90% serupa dengan pola tilawah di DI. Di antara 10% yang berbeda adalah doktrin JI sudah diwarnai dengan semangat Wahabi. Berbeda dengan doktrin DI yang jelas-jelas tidak mengidentifikasi diri sebagai Wahabi. Hal ini menjadi penjelasan logis, mengapa para istri aktivis JI memakai cadar. Tak seperti aktivis DI yang tidak menganjurkan cadar bagi jamaah perempuan DI.

Sementara itu, ketika sang guru (Baasyir) mulai memerankan pola perlawanan politik yang lebih lunak–di antaranya dengan mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia, anak-anak JI lulusan Afghan mulai gerah. Bahkan, ketika perang saudara di Poso dan Ambon meletus, tersiar kabar bahwa anak-anak JI lulusan Afghan kemudian lebih memilih bergabung dengan para sejawat DI lulusan Afghan untuk bertempur di dua daerah konflik tersebut.

Ketika dua perang lokal itu berakhir, mereka seolah kehilangan medan jihad. Wajar jika mereka kemudian mencari medan jihad baru. Nah, ketika itulah, Hambali berhasil memfasilitasi kerinduan mereka untuk berjihad. Apalagi, ketika itu Hambali telah menjelma menjadi salah satu tokoh Al-Qaeda di Asia Tenggara. Sejak itu, berhembus kabar bahwa JI pecah. Satu kelompok tetap setia pada JI pimpinan Baasyir yang lebih moderat, sedangkan satu kelompok lagi JI yang didukung Hambali yang lebih memiliki karakter kelompok paramiliter. . Kelompok kedua inilah, yang kemudian berkembang menjadi kelompok yang kini dibesarkan oleh Noordin M. Top cs.

Dari latar belakang itu, ada beberapa simpul yang bisa menjelaskan mengapa Noordin tidak menebar teror di negerinya: Malaysia.

Pertama, basis ideologi JI adalah Indonesia karena JI lahir dari gerakan DI/TII atau NII.

Kedua, karena alasan pertama itu, Noordin lebih mudah mendapat dukungan ideologis dari para aktivis JI maupun DI di Indonesia. Memang, tidak semua aktivis DI sepakat dengan cara-cara Noordin. Bahkan, Baasyir yang merupakan guru sekaligus mentor, pun tak sepakat dengan teror ala Noordin. Apalagi di Malaysia, jamaah DI maupun JI sudah semakin terdesak, yang pada akhirnya membuat ke-DI-an dan ke-JI-an mereka semakin memudar.

Ketiga, jauh lebih mudah bagi Noordin untuk merekrut anggota baru di Indonesia ketimbang di Malaysia. Karakter orang Indonesia jauh lebih mudah dikader untuk menjadi militan ketimbang orang Malaysia.

Keempat, dalam doktrin DI–organisasi militan pertama yang dikenal Noordin–Indonesia diyakini sebagai pusat dakwah dan kebangkitan Islam dengan sebutan Madinah Indonesia. Karena itu, Indonesia memiliki kedudukan istimewa dalam hati Noordin. Bahkan, bisa jadi Noordin merasa lebih nyaman menjadi JI yang Indonesianis ketimbang sebagai JI yang Malaysianis.

Saya tak ingin menggunakan DI/NII ini sebagai stigmatisasi, ataupun menafikan banyaknya mantan tokoh dan keturunan organisasi ini yang tidak ada kaitannya lagi dengan aksi-aksi teror saat ini. Saya hanya ingin menekankan satu hal: generasi terorisme lokal sangat berpotensi menjelma terorisme global. Organisasi lokal adalah cikal-bakal dari organisasi global. Oleh karena itu, warisan ideologi dan dendam kesumat dari generasi itu harus dipotong secara tuntas, sembari melakukan antisipasi terhadap munculnya organisasi-organisa si teror lokal baru di Indonesia. Karena terbawa arus melawan terorisme global, sebagian masyarakat dan aparat pemerintah justru lengah terhadap kemunculan organisasi-organisa si teror lokal baru yang dengan leluasa melakukan kekerasan, pengrusakan, dan penyerangan terhadap kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dianggap berbeda pandangan.

Agar cerita DI/NII dan segala turunannya itu tak terulang lagi, dan agar organisasi-organisa si lokal tidak bisa dimanfaatkan oleh jaringan global yang memungkinkan terjadinya aksi-aksi kekerasan seperti yang kita saksikan saat ini, maka diperlukan ketegasan aparat pemerintah untuk menindak kelompok-kelompok teror lokal baru diantaranya adalah Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah Sembilan ( NII KW9 ) yang berpusat di pesantren Al-Zaytun Indramayu Jawa Barat.

Label: