Catatan Vivi

Senin, 26 Oktober 2009

Maluku 7,3 SR

JAKARTA--MI: Gempa kuat kembali terjadi di Indonesia. Kali ini pusat gempa berada di Laut Banda, Maluku.

Gempa yang terjadi Sabtu (24/10) malam pukul 23.40 WIT atau 21.40 WIB tersebut berkekuatan 7,3 pada Skala Richter. Menurut BMG, pusat gempa berada di koordinat 6,23 Lintang Selatan dan 130,60 Bujur Timur dengan kedalaman 165 kilometer di bawah permukaan laut. Pusat gempa berada sekitar 209 kilometer barat laut Saumlaki.

Belum ada laporan korban ataupun kerusakan akibat gempa ini. BMG juga telah mencabut peringatan tsunami yang sebelumnya dikeluarkan. (OL-06)

Label:

Maluku 5,3 SR I

JAKARTA--MI: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat melaporkan gempa berkekuatan 5,3 skala Richter (SR) kembali mengguncang Maluku pada Minggu (25/10) pagi.

Pusat gempa berada kedalamam 39 kilometer berjarak 151 kilometer Barat Daya Tual, dengan posisi 6,69 Lintang Selatan dan 131,97 Bujur Timur, pada Minggu pukul 07.35 WIB atau 09.35 WIT.

Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,3 SR juga mengguncang daerah Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD) berjarak 176 km, kedalamam 165 km pada posisi 6.23 LS - 130.60 BT, Sabtu (24/10) sekitar pukul 23.40 WIT.

Gempa berkekuatan 6,1 SR mengguncang Wangiapu, NTT dengan kedalaman 19 km pada posisi 10.16 LS - 118.75 BT, Minggu pagi pukul 03.54 WIB.

Gempa susulan 5,5 SR kembali menggetarkan NTT dengan pusat gempa pada 174 Barat Daya Waingapu, kedalaman 23 km, posisi 10.1 LS - 118.75 BT pada Minggu pukul 04.04 WIB.

Guncangan gempa di Maluku berkekuatan 7,3 SR pada kedalaman 165 kilometer di bawah permukaan laut itu dirasakan warga kota Saumlaki hingga Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Tual dan Maluku Tenggara serta Kota Ambon.

Pada 30 September lalu, gempa berkekuatan 7,6 pada Skala Richter yang disertai tanah longsong telah pun memporakporandakan kota Padang dan beberapa wilayah lain di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar)seperti Solok, Pesisir Selatan, Agam serta Padang Pariaman .

Bencana tersebut menewaskan 1.117 orang dan melukai 2.902 orang lainnya, serta merusak puluhan ribu rumah warga, bangunan perkantoran, sekolah dan fasilitas umum. Kerugian materi akibat gempa Sumbar itu mencapai Rp 7,8 triliun.

Selain itu, gempa bumi di Sumbar ini juga mengakibatkan sekitar 200 orang dinyatakan hilang karena mereka diduga tewas dibawah reruntuhan berbagai jenis bangunan. (Ant/OL-02)

Label:

Gempa 5 SR kembali menggetarkan Maluku

JAKARTA--MI: Gempa dengan kekuatan 5 skala richter (SR) kembali menggetarkan Maluku berpusat 228 kilometer Barat Laut Saumlaki kedalaman 125 km pada posisi 7,52 Lintang Selatan - 129,31 Bujur Timur, Minggu (25/10) pukul 12.00 WIB atau 14.00 WIT.

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut merupakan kejadian yang keenam kalinya di Indonesia pada Minggu siang pukul 12.45 WIB.

Sebelumnya, getaran gempa terjadi di beberapa wilayah Indonesia, antara lain gempa 6,1 SR mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tepatnya berpusat pada 176 km Barat Daya Waingapu, kedalaman 19 km pada posisi 10.16 LS - 118.75 BT, pukul 03.54 WIB.

Gempa susulan 5,5 SR kembali menggetarkan NTT dengan pusat gempa pada 174 Barat Daya Waingapu, kedalaman 23 km, posisi 10.1 LS - 118.75 BT, pukul 04.04 WIB.

Gempa sebesar 5,3 SR kembali mengguncang Maluku pada kedalamam 39 kilometer berjarak 151 kilometer Barat Daya Tual, dengan posisi 6,69 Lintang Selatan dan 131,97 Bujur Timur, pada Minggu (25/10) pukul 07.35 WIB atau 09.35 WIT.

Getaran serupa dengan kekuatan lebih dari 5 SR terjadi di Sumatera Barat (Sumbar) yang berpusat pada 69 km Tenggara Siberut, Mentawai berkedalaman 13 km pada 1,58 Lintang Selatan - 99,43 Bujur Timur, pukul 08.50 WIB dan getaran 5,2 SR terasa di Sulawesi Utara (Sulut) berpusat pada 106 kilometer Timur Laut Bitung kedalaman 10 km dengan posisi 2,34 Lintang Utara - 125,55 Bujur Timur, pukul 09.25 WIB.

BMKG juga menyatakan gempa cukup besar berkekuatan 7,3 SR di Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD) tepatnya berjarak 209 km Barat Laut Saumlaki dengan kedalamam 165 km pada posisi 6.23 LS - 130.60 BT, Sabtu (24/10) pukul 21.40 WIB atau 23.40 WIT. (Ant/OL-02)

Label:

Gempa berkekuatan 6.0 pada Skala Richter (SR) terjadi Papua Barat

VIVAnews - Gempa berkekuatan 6.0 pada Skala Richter (SR) terjadi Papua Barat. Pusat gempa diketahui berada di kedalaman 23 kilometer.

Berdasarkan informasi yang diterima dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pukul 18.15 WIB, Jumat 23 Oktober 2009.

Lokasi gempa diketahui pada koordinat 0.91 Lintang Selatan (LS) dan 134.18 Bujur Timur (BT). BMKG mendeteksi pusat gempa berada di kedalaman 23 kilometer.

Gempa yang mengguncang Papua Barat itu berada di sekitar 13 kilometer arah tenggara Manokwari, Papua Barat.

Hingga kini, belum ada informasi terkait korban jiwa, kerusakan, atau luka-luka.

ismoko.widjaya@vivanews.com
• VIVAnews

Label:

Sabtu, 24 Oktober 2009

Gempa Manokwari 6 SR

Jumat, 23 Oktober 2009 | 19:56 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Ichwan Susanto

JAYAPURA, KOMPAS.com — Ketenangan warga Manokwari, Jumat (23/10) pukul 20.15, dikejutkan gempa berkekuatan 6 skala Richter. Warga yang tinggal di pesisir pantai sempat panik sehingga bergegas menuju tempat lebih tinggi, seperti Amban, untuk mengantisipasi kejadian tsunami.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Manokwari mencatat gempa berkekuatan 6 SR ini tidak berpotensi tsunami. Melalui radio, BMKG mengimbau warga agar tenang.

Menurut data BMKG, pusat gempa pada kedalaman 23 kilometer dengan jarak 13 kilometer tenggara Manokwari. Lokasi persisnya pada 0,91 LS dan 134,18 BT. "Goyangan terasa cukup kuat sehingga saya lari keluar dari dalam supermarket," ujar Mama Lisa yang tinggal di Distrik Manokwari Barat.

Ia mengatakan, mal-mal akhirnya memilih tutup. Namun, aktivitas Pasar Sanggeng dan Borobudur sudah kembali normal. "Kami tertolong juga karena listrik tidak padam," katanya.

BMKG Manokwari kerap memperingatkan warga setempat agar waspada terhadap gempa. Pasalnya, Manokwari berada pada pertemuan lempeng Pasifik, Indoaustralia, dan Eurasia.

Label:

Minggu, 18 Oktober 2009

Gempa 5,8 Skala Richter Goyang Kendari Sulawesi Tenggara

Minggu, 18 Oktober 2009 | 15:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Gempa berkekuatan 5,8 skala Richter menggoyang Kendari, Sulawesi Tenggara, siang ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Menurut situs Badan Meteorologi, gempa terjadi pada pukul 15:23:29 WIB. Titik gempa berada di 3,52 Lintang Selatan-123,27 Bujur Timur.

Pusat gempa berada di 89 kilometer timur laut Kendari dengan kedalaman 60 kilometer. Titik gempa juga berada 228 kilometer timur laut Bau Bau, Sulawesi Tenggara; atau 342 kilometer barat daya Sanana, Maluku; atau 345 kilometer tenggara Palopo, Sulawesi Selatan; atau 366 kilometer Tenggara Poso, Sulawesi Tengah.

Label:

Gempa Banten 6,4 SR

Gempa 6,4 Banten

Jum'at, 16 Oktober 2009 | 17:06 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Gempa Menggoncang Banten.. Data dari Badan Meteorologi dan Geofisika, gempa berkekuatan 6,4 skala richter, Jumat (16/10) pukul 17.15 WIB. Dengan pusat gempa terjadi di 42 kilometer Barat Laut Ujung Kulon, Banten, pada kedalaman 10 kilometer dibawah permukaan bumi, tepatnya di 105,11 derajat Bujur Timur dan 6,79 Lintang Selatan.
Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan atau korban dalam peristiwa ini.
Sebagai catatan, laporan dari United States Geological Survey, tadi pagi pukul 2.33 WIT, juga terjadi gempa di Sulawesi, 120 Kilometer Utara Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, dengan kekuatan 6.1 skala richter.

Label:

Minggu, 04 Oktober 2009

Gempa di Jambi dan Bengkulu

Seperti diberitakan Reuters, Kamis (1/10/2009), gempa yang terjadi pada pukul 09.31 WIB itu bertitik pusat di 54 kilometer Muko-muko, Bengkulu dengan kedalaman 10 kilometer, berkekuatan 7.6 SR

Label:

Daftar daerah yang terkena gempa bumi di Indonesia tahun 2004-2009

Gempa tektonik dasyat yang mengguncang Pulau Indonesia,yang berpusat pada Tasikmalaya ,bukanlah Gempa yang pertama dan kemungkinan besar itu bukan yang terakhir,karenaWilayah nusantara dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.
Sewaktu-waktu lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara.



Berikut daftar sejumlah bencana gempa bumi dasyat yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2004-2009


-kamis,1 Oktober 2009,gempa dengan kekuatan 7 SR.,Jambi

-rabu,30 september 2009,gempa dengan kekuatan 7,6 SR, Sumbar.korban ratusan orang (529 Orang dari data 1 oktober 09,pukul 16;40wib)

-Sabtu, 19 September 2009, gempa dengan kekuatan 6,4 SR ,Bali .tujuh orang mengalami luka-luka akibat gempa

- 2 September 2009, gempa berkekuatan 7,3 SR terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebanyak 46 tewas dan korban luka lebih dari 100 orang.

- 13 September 2007, gempa berkekuatan 7,8 SR terjadi di Pulau Sumatera, tak ada korban jiwa dilaporkan, gempa merusak sejumlah bangunan.

-12 September 2007, gempa berkekuatan 8,4 SR terjadi di Padang, Sumatera Barat. Sebanyak 25 tewas, dan lebih dari 50 orang luka-luka.

-6 Maret 2007, gempa berkekuatan 6,3 SR mengguncang Pulau Sumatera, sebanyak 52 orang tewas dan 250 orang luka-luka. Dua jam kemudian, terjadi gempa susulan berkekuatan 6,1 SR

-21 Januari 2007, gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Sulawesi, empat tewasdan empat orang luka-luka.

- 17 Juli 2006, gempa 7,7 SR mengguncang Pengandaran dan pantai di Selatan Pulau Jawa, dan memicu terjadinya tsunami. 600 orang tewas dalam musibah itu.

- 27 Mei 2006, gempa dengan kekuatan 6,2 SR mengguncang Yogyakarta, lebih dari 3.000 orang tewas dalam musibah tersebut.

-28 maret 2005, gempa dengan kekuatan 8,7 SR mengguncang Nias dan Simeulue, 900 orang tewas, ribuan rumah dan jembatan rata dengan tanah.

- 26 Desember 2004, gempa dasyat dengan kekuatan 9 SR mengguncang Sumatera dan memicu tsunami di beberapa negara, terutama Indonesua. 131. 029 orang tewas, sementara ribuan lainnya hilang. Bencana terparah yang dialami nusantara.

- 26 November 2004, Gempa 6,4 SR mengguncang Nabire, Papua. 30 orang tewas.

- 12 November 2004, gempa berkekuatan 6 SR mengguncang Alor. Sebanyak 27 orang tewas, ratusan bangunan rata dengan tanah.

- 6 Februari 2004, gempa berkekuatan 6,9 SR dan gempa berkekuatan 7,1 SR pada 7 Februari 2004 mengguncang Nabire, 34 tewas.

[vivanews]
dikutip oleh answering.wordpress.com

Label:

Dahsyatnya Gempa

Daerah rawan gempa bumi tektonik di Indonesia
(Kenapa selalu ada kerusakan?)
Fauzi MSc, PhD
Pusat Gempa Nasional
Badan Meteorologi dan Geofisika
Jl. Angkasa I/2 Kemayoran Jakarta 10720, tlp/fax. 021 420 9103, 654 6316, fauzi@bmg.go.id, http://www.bmg.go.id dan http://aeic.bmg.go.id

Ringkasan


Kerugian akibat gempa bumi tidak langsung disebabkan oleh gempa bumi, namun disebabkan oleh kerentanan bangunan sehingga terjadi runtuhan bangunan, kejatuhan peralatan dalam bangunan, kebakaran, tsunami dan tanah longsor. Faktor kerentanan bangunan sangat erat hubungannya untuk perhitungan bencana gempa bumi di masa yang akan datang. Faktor gempa bumi tak dapat dielakkan tapi harus dihadapi dengan merencanakan bangunan beserta lingkungannya yang tahan terhadap gempa bumi.

Prediksi gempa bumi sampai sekarang masih dalam taraf penelitian sehingga faktor mitigasi lebih penting untuk mencegah kerugian dan bencana yang lebih besar. Untuk itu diperlukan analisa resiko yang mencakup parameter gempa bumi, bangunan dan geologi setempat dimana bangunan atau perencanaan kota berada. Analisa ini memerlukan kerjasama antara masing-masing professional; Geofisikawan, Insinyur sipil dan Geology.

Pendahuluan


Lapisan kulit bumi dengan ketebalan 100km mempunyai temperatur relatif jauh lebih rendah dibanding dengan lapisan dalamnya (mantel dan inti bumi) sehingga terjadi aliran konveksi dimana massa dengan temperatur tinggi mengalir ke daerah temperatur rendah atau sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama berkembang untuk menerangkan pergeseran lempeng tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi tektonik. Disamping itu kita kenal juga gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan dan gempa buatan. Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke permukaan, gempa runtuhan banyak terjadi di pegunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar dam karena fluktuasi air dam, sedangkan gempa buatan adalah gempa yang dibuat oleh manusia seperti ledakan nuklir atau ledakan untuk mencari bahan mineral. Skala gempa tektonik jauh lebih besar dibandingkan dengan jenis gempa lainnya sehingga efeknya lebih banyak terhadap bangunan.

Indonesia merupakan daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng Pasific (gambar 1). Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor, dan liquefaction. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan bergantung pada beberapa hal; diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan.

Tulisan ini membahas beberapa aspek gempa bumi di Indonesia untuk menunjukkan daerah-daerah rawan gempa bumi berdasarkan aktifitas tektonik dan sejarah kegempaan yang pernah melanda Indonesia. Informasi ini bersifat regional karena belum menyentuh aspek lokal di sekitar bangunan yang mempengaruhi resiko bangunan terhadap getaran gempa bumi.

Daerah aktif gempa di Indonesia

Gempa bumi terjadi diawali dengan akumulasi stress di sekitar batas lempeng, sehingga aktifitas gempa banyak disini. Walaupun konsentrasi akumulasi stress akibat tabrakan lempeng berada di sekitar batas lempeng, akibatnya bisa sampai jauh sampai beberapa ratus kilometer dari batas lempeng karena ada pelimpahan stress di kerak bumi, sehingga ada daerah aktif gempa di luar daerah pertemuan lempeng. Kasus sesar Sumatra umpamanya adalah sesar yang dibentuk oleh pelimpahan stress tabrakan lempeng Indo-Australia dengan Eurasia dengan sudut tabrakan miring terhadap garis batas (gambar 1). Kemiringan ini menyebabkan timbulnya sesar Sumatra dimana konsentrasi akumulasi stress atau pusat-pusat gempa di daerah ini.

Beberapa sesar aktif yang terkenal di Indonesia adalah sesar Sumatra, sesar Cimandiri di Jawa barat, sesar Palu-Koro di Sulawesi, sesar naik Flores, sesar naik Wetar, dan sesar geser Sorong. Keaktifan masing-masing sesar ditandai dengan terjadinya gempa bumi. Gempa dangkal (kedalaman 0-50km) yang terjadi pada periode 1900-1995 dengan skala Richter 5.5 atau lebih, membuktikan lokasi-lokasi daerah aktif gempa di Indonesia. Sebagian dari gempa tersebut menimbulkan bencana, bergatung pada beberapa hal;
·        Skala atau magnitude gempa
·        Durasi dan kekuatan getaran
·        Jarak sumber gempa terhadap perkotaan
·        Kedalaman sumber gempa
·        Kualitas tanah dan bangunan
·        Lokasi bangunan terhadap perbukitan dan pantai
Faktor kualitas tanah dan bangunan adalah faktor yang sangat menentukan untuk pengkajian resiko gempa bumi. Kualitas tanah di tempat bangunan berdiri dinyatakan dengan percepatan tanah maksimum (Peak Ground Acceleration) dari catatan exact accelerograph sewaktu gempa besar terjadi. Hal ini sangat jarang terjadi karena periode gempa besar sangat panjang (50-100 tahun) dan karena acceleropgraph.belum terpasang. Karena itu banyak cara empiris dilakukan untuk menemukan percepatan maksimum di perkotaan. Disamping itu lokasi bangunan terhadap pantai yang rentan terhadap ancaman tsunami dan lokasi bangunan terhadap perbukitan yang rentan terhadap longsoran perlu juga dimasukkan dalam pertimbangan asuransi.

Pemetaan gempa bumi


Pemetaan gempa bumi bisa dilakukan dengan 2 cara; pertama adalah dengan memetakan sumbernya atau hyposenter (pusat gempa) dengan skala dan kedalaman tertentu, kedua adalah dengan memetakan efeknya atau informasi makro gempa bumi. Magnitude gempa dengan magnitude 5 atau lebih dan kedalaman kecil dari 50km sering dipakai karena berpotensi untuk merusak bangunan. Informasi makro gempa bumi adalah peta dengan memakai skala Modified Mercalli Intensity (MMI), yaitu besarnya efek yang dirasakan oleh pengamat dimana dia berada tanpa memperhatikan sumbernya.

Aktifitas gempa yang pernah terjadi dari tahun 1900 sampai 1996 dengan skala magnitudo diatas 6.0 menunjukkan bahwa aktifitas gempa tersebut berada di sekitar tabrakan lempeng tektonik (interplate earthquake) dan di sekitar sesar (gambar 2). Ciri khas di daerah Indonesia, umumnya kekuatan gempa yang besar (M>7) berada di sekitar tabrakan lempeng, sedangkan gempa di dalam lempeng (intraplate earthquake) ukurannya relatif kecil. Namun akibatnya terhadap bangunan mungkin sama, karena gempa interplate berada di laut sedangkan gempa intraplate berada di darat yang relatif lebih dekat dengan perkotaan.

Bencana Bengkulu dan Sukabumi

Gempa Bengkulu pada 4 Juni 2000 dengan magnitude Mb 7.3 atau Mw 7.9 menimbulkan korban 100 orang lebih. Kerusakan terparah berturut-turut ada di Pulau Enggano, Pasar Ngalam, Sukaraja, Bengkulu Selatan dan di Kota Bengkulu. Laporan team survey dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menggambarkan tingkat kerusakan dengan memakai skala Modified Mercally Intensity (MMI) bahwa tingkat kerusakan terparah terjadi di Pulau Enggano (gambar 3). Kedalaman gempa dari USGS, CMT-Harvard maupun BMG bervariasi dari 5km sampai kedalaman 62km. Fokal mekanisme juga bervariasi dari sesar naik dengan arah yang bervariasi atau sesar mendatar (gambar 2). Perbedaan ini pada dasarnya adalah perbedaan penggunaan data dan cara menganalisa data. Pada awanya prosessing dilakukan dengan cara otomatis dengan memakai data real time, kemudian dilanjutkan dengan proses yang dilakukan operator dengan menambahkan data sesuai dengan kriteria yang diinginkan.

Hari Rabu pagi tanggal 12 Juli, 2000 pada saat kantor baru saja mulai, gempa dengan kekuatan sedang mengejutkan penduduk di Jakarta, Bandung, Sukabumi dan Bogor. Pusat gempa dilaporkan dekat dengan Sukabumi. Gempa bumi melanda daerah Sukabumi untuk kesekian kalinya; tahun 1982 (M=5.5), 1973 (M=4.9), 1969 (M5.4). Intensitas maksimum  yang dirasakan di Jakarta adalah MMI III, yang berarti beberapa orang merasakannya, khususnya di bangunan bertingkat.

Monitoring gempa susulan


Gempa susulan (aftershock) merupakan proses stabilisasi medan stress ke keseimbangan yang baru setelah pelepasan energi atau stress drop yang besar pada gempa utama. Setiap gempa tektonik dangkal (kira-kira < 100km) selalu diikuti oleh dislokasi atau patahan. Dislokasi ini mengganggu keseimbangan medium sekelilingnya, sehingga dengan sendirinya muncul gempa lainnya yang merupakan proses keseimbangan baru. Proses ini bisa berlangsung beberapa jam sampai berminggu-minggu, tergantung pada besar gempa utama dan sifat batuan. Frekuensi dan magnitude gempa susulan ini umumnya menurun secara exponensial terhadap waktu (gambar 4). Extrapolasi kurva frekuensi dan magnitude terhadap waktu bisa menjadi patokan perkiraan besarnya gempa susulan, sehingga bahaya dari gempa susulan ini menjadi sangat serius apabila gempa utama telah merusak struktur bangunan. Struktur bangunan yang sudah dirusak oleh gempa bisa dianggap seperti susunan dinding, batu dan pilar yang tak mempunyai daya ikat lagi satu sama lain. Sehingga gempa susulan dengan MMI IV saja sudah cukup untuk merubuhkan bangunan.

Untuk itu peranan peneliti gempa susulan baik dari BMG atau lainnya sangat diperlukan untuk melihat tingkat penurunan aktifitas gempa. Gempa susulan Bengkulu yang dilaporkan team survey BMG menunjukkan penurunan aktifitas secara exponensial (gambar 4). Pada hari ke empat terdapat gempa susulan dengan skala Mw6.5 yang mengakibatkan kenaikan aktifitas kedua setelah gempa utama.

Monitoring Gempa bumi

Kenyataan bahwa berita bencana sangat cepat menyebar di media massa, sehingga pemerintah atau lembaga lainnya sangat cepat bereaksi untuk memberikan bantuan untuk penduduk yang sedang dilanda bencana. Jika kita bisa meramalkan gempa bumi, maka bencana tentunya tidak akan terjadi dan tidak perlu mengeluarkan dana. Namun teknik untuk meramal gempa bumi sampai sekarang belum ada yang bisa dipertahankan secara ilmiah, sehingga kita perlu mempersiapkan diri, lingkungan dan bangunan yang tahan terhadap gempa bumi. Untuk itu diperlukan peta aktifitas gempa bumi yang menunjukkan bahwa aktifitas seismik (gempa) di Indonesia umumnya tinggi hampir di semua pulau. Setiap pulau mempunyai tingkat aktifitasnya masing-masing yang perlu di monitor dengan merapatkan jaringan seismograp sehingga informasi aktifitas gempa bumi bisa lebih teliti.

Bencana gempa bumi, tsunami atau letusan gunung berapi adalah suatu bukti dari ketidakmampuan kerak bumi menampung akumulasi deformasi yang berasal dari proses berkesinambungan dari pergerakan tektonik lempeng atau pergerakan magma kepermukaan. Sehingga deformasi sesaat berupa gempa bumi atau letusan gunung api tak terhindarkan. Bencana gunung berapi umumnya dapat ditanggulangi secara dini, karena gejala letusan bisa diamati, mulai dari arah letusan, arah aliran magma sampai pada luas daerah yang akan mengalami bencana dapat diperkirakan. Gunung Rabaul (Papua Nugini) contohnya meletus bulan September 1994. Persiapan evakuasi telah dilaksanakan secara bertahap 10 tahun sebelumnya, sehingga nyawa dan harta dapat diselamatkan. Hal ini menyangkut efektifitas informasi yang disampaikan pada masarakat. Dipihak lain juga menyangkut keberhasilan monitoring dan penelitian tentang tabiat pergerakan magma dan peramalannya.

Dua pihak antara masarakat dan peneliti berkomunikasi dengan baik sehingga calon korban dapat dan mau diselamatkan. Karena itu interaksi antara masarakat dan peneliti gempa bumi perlu ditingkatkan seperti halnya bencana gunung api. Korban gempabumi disebabkan oleh runtuhan bangunan yang digoyang gempa, sedangkan korban letusan gunungapi disebabkan oleh aliran lahar, magma, debu panas, atau kebakaran, dimana manusia tidak dapat bertahan ditempat kejadian dan harus mengungsi puluhan kilometer. Calon korban gempa bumi tidak perlu mengungsi asalkan bangunan dan lingkungan mereka tahan terhadap gempa bumi, karena itu sangat perlu kita sadari bersama bahwa jatuhnya korban karena runtuhan bangunan atau kejatuhan peralatan rumah tangga.

Resiko terhadap gempa bumi jelas ada, namun gejalanya tak sejelas bencana gunung berapi, karena itu pengertian dan pengetahuan  masyarakat lebih ditekankan agar tidak membangun bencananya sendiri di tempat kediaman. Pegertian ini dapat ditingkatkan dengan penerangan dan penjelasan tentang kenyataan hidup di lokasi aktif gempa. Makin besar kesiagaan masarakat atas bencana yang mengancam, maka makin kecil resiko yang dihadapi. Sarana yang paling efektif menurut penulis adalah pendidikan formal melalui program monitoring di sekolah atau program monitoring di daerah sekitar aktif gempa dimana pemerintah daerah langsung ikut terlibat didalamnya.


Penanggulangan
Bencana alam terfokus pada korban manusia beserta miliknya. Peristiwa alam yang extreem (tsunami setinggi 20m misalnya) tidak masuk dalam kategori bencana alam apabila tidak menelan korban. Karena itu bencana alam bergantung pada dua faktor yang harus ada; peristiwa alam dan penduduk.

Identifikasi daerah tsunami berdasarkan sejarah sudah bisa dikenali sebagai daerah bahaya tsunami yang harus diwaspadai. Apalagi untuk masa sekarang, faktor jumlah penduduk jauh lebih banyak, sehingga bencana alam bisa lebih besar dibanding 100 tahun yang lalu di tempat yang sama. Jumlah korban akibat tsunami sangat bergantung pada tinggi gelombang yang sampai di pantai. Disamping sejarah, perkiraan tinggi gelombang bisa dihitung melalui model sumber gempa, bentuk pantai dan bentuk permukaan dasar laut (batimetri). Sehingga pembangunan pelabuhan, perumahan di sekitar pantai dapat mempertimbangkan efek tsunami yang mengancam.

Selain tsunami, korban banyak juga terjadi karena runtuhan bangunan yang tak tahan terhadap percepatan gelombang gempa yang tinggi. Maksimum percepatan gelombang gempa terjadi pada saat gempa terbesar yang pernah terjadi di suatu daerah. Ini menjadi catatan yang sangat penting bagi perancang bangunan agar bisa merancang bangunan yang tahan terhadap percepatan maksimum tersebut. Namun tidak banyak data percepatan maksimum yang pernah dicatat, sehingga dilakukan secara empirik dimana magnitude atau intensitas gempa dikonversikan ke percepatan dengan beberapa asumsi.
Peranan peneliti untuk mengetahui bencana gempa bumi sangat diperlukan agar calon korban gempa bumi bisa dihindari dengan berbagai cara, namun yang paling penting menurut kami adalah ‘melek’ gempa untuk kesadaran kita hidup di daerah aktif gempa. Sangat analogi dengan sabuk pengaman di mobil, jika tidak dipakai tidak akan berguna sampai suatu kecelakaan yang fatal.

Prediksi Gempa bumi

Prediksi gempa bumi meliputi parameter lokasi, waktu dan skala gempa bumi tersebut. Ketiga paremeter tersebut harus ada, sehigga penanggulangan bencana bias dilakukan dengan tepat dan proporsional. Sayangnya sampai saat ini prediksi gempa yang tepat dan teliti belum bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, karena tanda-tandanya (precursor) tidak pasti. Gejala yang banyak diamati berdasarkan pada sifat-sifat batuan yang mengalami stress akibat tekanan yang ditimbulkan dari pergerakan lempeng tektonik. Gejala tersebut terlihat pada perubahan posisi satu titik relatif terhadap titik lainnya yang diamati dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Perubahan posisi tersebut bisa terlihat nyata setiap tahunnya, namun belum bisa dipakai untuk prediksi gempa. Gejala lainnya adalah perubahan muka air tanah, electro magnetis, seismisitas, kecepatan gelombang dsb. Semuanya tetap belum bisa dipakai sebagai tanda yang jelas untuk predisksi gempa bumi.
Karena prediksi gempa bumi belum sempurna, maka lebih tepat digunakan forcasting yang mencakup luasan daerah, kisaran waktu maupun kisaran skala sebagai penanggulangan bencana ataupun analisa resiko gempa bumi. Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktifitas gempa bumi di Indonesia bisa dibagi dalam 6 daerah aktifitas (gambar 5);
1.      Daerah sangat aktif. Magnitude lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini. Yaitu di Halmahera, pantai utara Irian.
2.      Daerah aktif. Magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi. Yaitu di lepas pantai barat Sumatra, pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, Banda.
3.      Daerah lipatan dan retakan. Magnitude kurang dari 7 mungkin terjadi. Yaitu di pantai barat Sumatra, kepulauan Suna, Sulawesi tengah.
4.      Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan. Magnitude kurang dari tujuh bisa terjadi. Yaitu di Sumatra, Jawa bagian utara, Kalimatan bagian timur.
5.      Daerah gempa kecil. Magnitude kurang dari 5 jarang terjadi. Yaitu di daerah pantai timur Sumatra, Kalimantan tengah.
6.      Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa. Yaitu daerah pantai selatan Irian, Kalimantan bagian barat.

Pembagian daerah aktif gempa bisa juga ditinjau dari data makro atau intensitas gempa yang pernah dirasakan. Peta intensitas gempa Bengkulu pada tanggal 4 Juni 2000 (gambar 4) adalah satu kasus data makro yang langsung bisa dikaitkan dengan bangunan. Beberapa kasus gempa merusak merupakan data makro yang menghasilkan peta intensitas regional seperti yang pernah dilakukan oleh J.Murjaya dan G.Ibrahim pada tahun 1998, (gambar 6). Pada peta ini, daerah yang terkena dampak gempa bumi dibagi menjadi 4 daerah;
1.      Daerah dengan intensitas MMI IX atau lebih.
2.      Daerah dengan intensitas MMI VII-VIII.
3.      Daerah dengan intensitas MMI V-VI.
4.      Daerah dengan intensitas MMI < V
Pembagian ini masih bersifat regional, dengan perkataan lain bahwa untuk analisa resiko gempa pada suatu bangunan yang terletak pada suatu tempat di satu kota, memerlukan analisa mikro yang memasukkan beberapa unsur seperti lapisan tanah tempat bangunan, ketebalan lapisan, respon tanah dan bangunan terhadap getaran dsb. 

Periodisitas gempa bumi

Periode ulang gempa bumi maksudnya adalah bahwa gempa bumi dengan skala tertentu (misalnya M=8) akan terulang kembali di daerah yang sama pada kurun waktu tertentu. Perhitungan periode ulang ini memerlukan data paling tidak satu periode, lebih panjang lebih baik. Namun catatan gempa bumi dengan peralatan, baru dimulai pada awal abad 20. Karena itu untuk memperanjang periode pengamatan, dibantu dengan catatan intensitas gempa yang sudah dimulai sejak awal abad masehi. Selain itu penelitian paleoseismic juga bisa membantu memperpanjang periode pengamatan.

Gempa yang sama kekuatannya dengan gempa pada 4 Juni 2000 di Bengkulu pernah terjadi dua kali pada 1833, 1914. Sehingga banyak yang setuju dengan teori peramalan (forcasting) gempa dengan metode perioda ulang berkisar 80 tahun. Disamping itu terdapat juga gempa yang ukurannya lebih kecil dengan periode ulang lebih pendek.

Perhitungan matematis periode ulang gempa bumi di Sumatra oleh peneliti BMG (Rasyidi Sulaiman dan Robert Pasaribu, 2000) menunjukkan bahwa periode ulang di Sumatra Selatan berkisar antara 8-34 tahun dengan nilai tengah 21 tahun. Gempa pada tahun 1979 di Bengkulu yang cukup besar dengan M=5.8, MMI=VIII, sedangkan gempa berikutnya adalah Juni 2000 (1979+21tahun).

Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika

BMG sebagai lembaga pemerintah yang bertugas untuk memonitor aktifitas gempa bumi di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. BMG mulai mengoperasikan stasiun pemantau gempabumi permanen pada tahun 1908, yakni dengan memasang seismograph Wichert komponen horisontal di Jakarta. Sedangkan komponen vertikal sesimograph tersebut dipasang pada tahun 1928 pada tempat yang sama.

Pada pertengahan dekade 1970, dengan disponsori oleh UNESCO, BMG mulai mengembangkan jaringan pemantau gempabumi dengan mengoperasikan 28 stasiun seismograph. Tiap-tiap stasiun dilengkapi dengan seismograph 1 komponen vertikal periode pendek, dan sinyal seismik direkam pada kertas seismogram. Mulai tahun 1990 sampai dengan saat ini, pada 10 stasiun seismograph dari 28 stasiun telah ditingkatkan menjadi 3 komponen periode pendek.

Sebagai organisasi yang bertugas diantaraanya melakukan pengamatan gempabumi, BMG mempunyai 5 Balai Wilayah, yakni BMG Wilayah I di Medan, BMG Wilayah II di Ciputat, BMG Wilayah III di Denpasar, BMG Wilayah IV di Ujung Pandang dan BMG Wilayah V di Jayapura. Untuk pengolahan data gempabumi di Balai Wilayah, data gempabumi dari stasiun seismograph dikirim ke Balai Wilayah setiap 3 jam melalui SSB, telex, atau sarana telekomunikasi lain, bersama-sama dengan data meteorologi. Sekarang ini fasilitas komunikasi sudah dilengkapi dengan sarana VSAT untuk komunikasi stasiun dengan Balai wilayah dan dengan Pusat.

Saat ini  BMG mengoperasikan jaringan pemantau gempabumi telemetri, yang terdiri dari 32 sensor.  Sesuai dengan struktur  organisasi BMG yang terdiri dari 5 Wilayah, jaringan tersebut dibagi menjadi 5 Jaringan Regional yang berpusat di Medan, Ciputat (Jakarta), Denpassar, Makassar dan Jayapura.

Kerjasama monitoring

Jumlah jaringan maupun jumlah stasiun milik BMG sangat dirasakan kurang dibandingkan dengan luas daerah Indonesia yang pada umumnya adalah aktif. Usaha untuk mengembangkan jaringan belum bisa dilaksanakan sehubungan dengan keterbatasan dana. Yang bisa dilakukan adalah kerjasama dengan jaringan seismograp luar negri agar bisa menambah data. Kerjasama yang berjalan sekarang ini adalah kerjasama dengan jaringan seismograp yang ada di negara ASEAN melalui ASEAN Earthquake Information Center (AEIC) yang berpusat di BMG Jakarta. AEIC menyediakan sarana komunikasi dengan negara ASEAN dalam pertukaran data gempa.





Gambar 1. Lingkungan tektonik Indonesia terdiri dari tiga lempeng tektonik; Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia yang bergerak relatif terhadap lainnya (lihat arah panah). Batas lempeng tektonik merupakan daerah konsentrasi aktifitas gempa bumi yang diplot sebagai garis hitam dan segi tiga. Garis tebal merupakan sesar aktif, sedangkan lingkaran adalah stasiun seismograf.




Gambar 2. Distribusi gempa bumi yang pernah terjadi sejak tahun 1900 sampai 1996 dengan skala magnitudo > 6. Kedalaman gempa dibedakan dengan symbol seperti symbol dalam box pada gambar.



Gambar 3. Isoseismal yang menunjukkan distribusi intensitas skala MMI (Modified Mercally Intensity) yang dilaporkan oleh team survey dari BMG.







Gambar 4. Frekuensi gempa susulan yang dipantau oleh team survey BMG di Bengkulu
. Gempa susulan menurun secara exponensial, namun adakalanya ada kenaikan seismisitas setelah gempa susulan yang cukup besar. Gempa susulan selalu lebih kecil dibandingkan dengan gempa utamanya dan pada dasarnya tetap menurun secara exponensial.





Gambar 5. Pembagian daerah aktifitas gempa bumi (SEASEE, Vol.5, 1985) berdasarkan sejarah kegempaan.



Gambar 6. Klasifikasi peta gempa bumi berdasarkan data makro atau intensitas gempa di lokasi pengamat berada, (Jaya Murjaya dan Gunawan Ibrahim 1998).

Label:

Sabtu, 03 Oktober 2009

Bantuan Gempa

Bantuan utk korbn gempa padang dpt dsalurkan mlalui rek kmanusiaan MER-C, sbb: 1. BCA cab kwintang no. Rek. 6860099339
2. Bank syariah mandiri cab. Kramat, no. Rek 1280011802 a/n medical emergency rescue comittee.
Sumbangan sekecil apapun akan berarti banyak bagi mereka..

Label: